Salam hangat untuk Anda para pembaca yang teliti dan berhati lapang.
Coba tebak. Ketika Anda membayangkan seorang autis, siapa yang muncul di benak Anda? Sebagian besar dari kita akan menggambarkan anak laki-laki yang duduk sendiri sambil memainkan jari-jarinya. Wajar saja, karena selama puluhan tahun, penelitian dan media hampir secara eksklusif menampilkan autisme versi “laki-laki”. Akibatnya, ada satu kelompok besar yang kerap terlewat dari radar diagnosis, dukungan, bahkan empati kita. Mereka adalah perempuan autis dan orang dewasa dalam spektrum yang tidak terdiagnosis hingga usia matang.
Hari ini, mari kita luangkan waktu untuk membuka mata pada realitas yang selama ini tersembunyi di balik stereotip.
Mengapa Perempuan Autis Sering Terlewat?
Bayangkan seorang gadis kecil bernama Kirana. Ia pendiam, rajin, dan selalu mengerjakan PR tepat waktu. Namun, di jam istirahat, ia tidak pernah bermain dengan teman-temannya. Ia lebih suka mengamati semut berbaris di dinding atau membaca ulang buku kesukaannya untuk kesepuluh kalinya. Guru-gurunya hanya bilang, “Kirana anak yang baik, hanya agak pemalu.” Ibu dan ayahnya tidak pernah berpikir ada yang salah. Kirana sendiri tumbuh dengan perasaan “aneh” — ia bisa meniru ekspresi dan tawa temannya agar tidak terlihat berbeda, tapi di dalam hatinya ia kelelahan luar biasa karena terus-menerus “berakting” menjadi normal.
Inilah yang disebut masking (menutupi). Perempuan autis secara statistik lebih mahir dalam meniru perilaku sosial dibandingkan laki-laki autis. Mereka belajar dari film, buku, atau mengamati teman sekelas, lalu mempraktikkannya seperti membaca naskah drama. Hasilnya? Mereka tidak terlihat “autis” di mata orang awam. Padahal, di balik kedok itu, mereka bisa mengalami kecemasan kronis, depresi, atau burnout berat di usia remaja atau dewasa.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rasio autisme laki-laki-perempuan mungkin tidak 4:1 seperti yang selama ini kita kira, tetapi mendekati 2:1 atau bahkan 1,5:1 — hanya saja perempuan lebih terampil menyembunyikan gejalanya.
Dewasa yang Baru Tahu Ketika Diagnosis Datang di Usia 30 atau 40
Lalu bagaimana dengan orang dewasa autis yang tidak terdiagnosis saat anak-anak? Mereka tumbuh, kuliah, bekerja, bahkan menikah dan memiliki anak. Namun, mereka selalu merasa “ada yang tidak beres” dengan diri mereka. Mereka sering disebut “aneh”, “terlalu sensitif”, atau “kaku” oleh lingkungan sekitar.
Saya ingin Anda bertemu dengan Rani, 34 tahun, seorang desainer grafis yang sukses. Sepanjang hidup, Rani merasa sangat lelah setiap kali pulang dari pesta kantor. Ia tidak mengerti mengapa orang-orang bisa berbicara tentang cuaca selama sepuluh menit, mengapa mereka tersinggung ketika ia memberikan jawaban jujur saat ditanya pendapat, atau mengapa suara blender di kafe membuatnya ingin berteriak. Ia bolak-balik ke psikolog untuk depresi, sampai akhirnya seorang psikiater yang teliti menyadari: Rani berada dalam spektrum autisme.
Diagnosis di usia dewasa membawa perasaan campur aduk: ada kesedihan karena “terlambat”, tapi juga kelegaan yang luar biasa. “Oh, jadi saya tidak rusak atau malas. Saya hanya otak saya yang bekerja dengan cara yang berbeda.” Itulah kalimat yang sering keluar dari klien dewasa yang baru terdiagnosis.
Tantangan Unik Perempuan Autis di Tempat Kerja dan Hubungan
Tidak bisa dipungkiri, menjadi perempuan autis di dunia yang dirancang oleh dan untuk neurotipikal (non-autis) adalah medan perjuangan tersendiri. Mari kita lihat beberapa tantangan yang jarang diketahui:
- Di kantor: Instruksi verbal yang ambigu seperti “Tolong kerjakan yang penting dulu” bisa membuat mereka panik karena tidak tahu mana yang dimaksud “penting”. Lelucon di ruang rapat seringkali tidak mereka pahami, tetapi mereka sudah belajar untuk tertawa telat setengah detik — dan itu melelahkan.
- Dalam pertemanan: Mereka sering menjadi korban bullying halus atau bahkan eksploitasi karena kesulitan membaca niat buruk orang lain. Banyak perempuan autis yang menceritakan pengalaman dimanfaatkan oleh “teman” yang hanya mendekati mereka untuk uang atau bantuan.
- Dalam hubungan romantis: Komunikasi yang literal bisa disalahartikan sebagai dingin atau tidak peduli. Perbedaan dalam kebutuhan sentuhan atau intensitas emosi sering menjadi sumber konflik.
Namun, perlu digarisbawahi: dengan dukungan yang tepat dan pasangan yang memahami, perempuan autis bisa membangun hubungan yang sehat dan membahagiakan — sama seperti siapa pun.
Hal yang Bisa Kita Lakukan Mulai Hari Ini
Anda tidak perlu menjadi profesional kesehatan untuk membantu. Cukup mulai dengan hal-hal sederhana ini:
- Periksa bias Anda sendiri. Hentikan asumsi bahwa autisme selalu terlihat seperti anak laki-laki yang bergoyang-goyang. Sadarilah bahwa ada gadis pendiam, wanita karier yang “terlalu perfeksionis”, atau ibu rumah tangga yang mudah kewalahan — mereka mungkin juga autis.
- Percaya pada pengalaman perempuan autis. Jika seorang wanita mengatakan dirinya autis, jangan menjawab, “Kamu nggak keliatan autis lho.” Itu sama saja dengan mengatakan bahwa penampilannya lebih penting daripada perjuangan batinnya.
- Dukung akses diagnosis. Banyak perempuan dewasa yang ingin memeriksakan diri tetapi terbentur biaya atau minimnya layanan untuk autis dewasa. Suarakan pentingnya layanan inklusif untuk semua usia dan jenis kelamin.
- Jadilah tempat yang aman. Jika Anda memiliki rekan atau teman yang mungkin berada dalam spektrum, tawarkan komunikasi yang jelas dan langsung. Tanyakan, “Lebih enak ngobrol lewat chat atau telepon?” atau “Apakah tempat ini terlalu bising buatmu?” Hal-hal kecil itu sangat berarti.
Spektrum Tidak Mengenal Gender
Para pembaca yang saya hormati, autisme tidak pilih-pilih gender. Dia hadir pada anak laki-laki, anak perempuan, orang dewasa, bahkan kakek-nenek yang selama hidupnya tidak pernah mendapatkan jawaban atas perasaan “berbeda” yang mereka alami. Sekarang, di era informasi ini, kita punya kesempatan untuk memperluas pemahaman kita.
Jadi, jika suatu hari Anda bertemu dengan seorang wanita dewasa yang mengatakan, “Saya baru tahu bahwa saya autis,” jangan tanyakan, “Serius? Tapi kamu bisa bicara dan bekerja lho.” Cukup ucapkan, “Terima kasih sudah berbagi. Ceritakan lebih banyak, aku ingin belajar.”
Karena pada akhirnya, pemahaman adalah bentuk dukungan paling dasar yang bisa kita berikan satu sama lain.
Terima kasih sudah menjadi pembaca yang selalu haus akan wawasan baru. Sampai bertemu lagi di perbincangan selanjutnya.